News Update
Siantar News / Headline / Sistim Pendidikan Nasional Masih Feodalistik
Lampola Uli Pane (Foto FB)

Sistim Pendidikan Nasional Masih Feodalistik

Hari pendidikan diperingati setiap tanggal 2 Mei berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 305 Tahun 1959  yang ditetapkan tanggal 28 November 1959, merupakan hari kelahiran seorang tokoh besar republik ini, Ki Hajar Dewantara.

Apabila kita mengulang kembali kisah sang tokoh, maka kita akan tahu bahwa perguruan yang dibangun pada masa itu sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan pada peserta didik. Tujuannya tak lain adalah agar peserta didik memiliki rasa kecintaan pada tanah air yang pada saat itu sedang berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.

Tujuan ini tidak hanya secara konsep tetapi juga teknis, seharusnya relevan dan  tetap harus dijunjung oleh sistem pendidikan (instansi pendidikan) kita hingga saat ini.

Apabila kita melihat berbagai masalah yang dihadapi oleh bangsa ini, maka sistem pendidikan kita tidak lagi dijalankan untuk mencapai tujuan tersebut.

Tujuan pendidikan yang sudah ditetapkan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional Pasal 3 tidak tercapai dengan maksimal. Nasionalisme yang seharusnya menjadi buah dari pendidikan kini dikesampingkan dengan mengatasnamakan hard skill yang harus dicapai.

Gambarannya adalah elit politik hingga masyarakat biasa yang mengecap pendidikan justru tidak mencerminkan perilaku terdidik. Berilmu tapi tidak berakhlak mulia dan tidak menjadi warga negara yang demokratis serta tidak bertangung jawab adalah sifat dari sebagian besar penduduk bangsa ini.

Perjalanan bangsa ini dalam menjalankan roda kehidupannya selalu berdampingan dengan KKN atau korupsi, kolusi dan nepotisme yang merupakan tindakan yang sangat merugikan negara.

Kenyataanya adalah kasus tidak terdidik yang menjadi konsumsi publik dan merugikan banyak pihak justru banyak dilakukan oleh oknum yang sudah menimba ilmu di pendidikan tinggi. Korupsi dan terorisme yang dilakukan oleh petinggi-petinggi bangsa ini menjadi indikasi bahwa sistem pendidikan membentuk manusia berilmu tanpa akhlak yang baik.

Di sisi lain, banyak masyarakat yang yang sudah menerima pendidikan formal melakukan tindakan-tindakan yang tidak mencerminkan esensi dari pendidikan yang diterimanya. Hal ini ditandai dengan tingginya angka krminalitas dan tergerusnya moral generasi penerus bangsa ini. Hal ini menandakan bahwa sistem pendidikan yang dijalankan melalui instansi pendidikan gagal mencapai tujuan pendidikan itu sendiri

Dalam prakteknya, sekolah yang menjadi rumah pendidikan formal lebih banyak mengajar dibandingkan mendidik. Sekolah berlomba untuk melahirkan siswa yang pintar secara akademik. Inilah yang menjadi salah satu penyebab timpangnya buah pendidikan, yang dihasilkan sistem tersebut.

Penyebab lain adalah banyaknya tindakan-tindakan yang menjadikan instansi pendidikan sebagai ajang bisnis tanpa mempertimbangkan esensi dari eksistensi pendidikan itu sendiri.

Penulis : Mahasiswi FKIP UHN Pematangsiantar, Sekretaris Cabang GMKI Siantar-Simalungun

Baca Juga

Amin Rais Sebut Penyebar Pencalonan Anaknya Calon Wagubsu Sebagai Cebong-Cebong

SiantarNews|Jakarta,- Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional, Amien Rais, mengatakan pelaku penyebar berita bohong tentang pencalonan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!