News Update
Siantar News / Opini / Jurnalisme Warga / Pemilih cerdas Dalam Memilih Pemimpin Yang Merakyat
Saddan Sitorus,SH

Pemilih cerdas Dalam Memilih Pemimpin Yang Merakyat

SiantarNews|Opini,- Suksesi Pilkada pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Kota Adipura PematangSiantar tinggal Min 2 menjelang hari H. Jadwal yang ditetapkan oleh KPUD PematangSiantar pada hari Rabu, 16 November 2016. Unik dan sempat menjadi perhatian Publik pasca penundaan hampir kurang lebih 1 tahun lamanya, wajar saja jika menjadikan 4 pasangan calon yang ditetapkan oleh KPUD Kota PematangSiantar antara lain, Nomor urut 1. Sujito-Jumadi 2. Hulman Sitorus-Hepriansyah 3. Teddy Robinson Siahaan-Zainal Purba 4. Wesly Silalahi-H.Sailanto secara tidak langsung mengalami situsasi  berang dan dilema.

Betapa tidak, kondisi dilema yang dialami dari ke-4 pasangan calon saat ini bisa di gambarkan dengan bertambahnya beban pikiran, terganggu segala aktivitasnya, terganggu kesehatannya hingga jumlah nominal cost yang dikeluarkan selama setahun lamanya, tidak lain gunanya untuk menjaga stabilitas basic massa sampai menjelang hari. Tentu untuk akan hal itu, maka akan ada banyak jurus tandur yang akan di perlihatkan oleh TIM PEMENANG untuk memenangkan jagoan masing-masing. Jika  bela diri Kungfu punya Jurus Harimau, Jurus Monyet, Jurus Mabuk dan masih banyak lagi jurus lainnya, bisa jadi hal serupa yang akan ditemui oleh masyarakat PematangSiantar dengan apa yang diakukan oleh TIM dalam pendekatan persuasifnya, melalui Janji Manis dan Visi Misi.

Sebagai Kota Majemuk, PematangSiantar yang diresmikan pada 24 April 1871,dan memiliki luas sekitar 79,97 Km2 serta jumlah penduduk sekitar kurang lebih 243.977 jiwa (data 2010) dinilai sebagai kota strategis ternyata masih memerlukan peranan-peranan soluktif dari pemerintah hingga sampai akar rumput terkait kondisi yang dialami masyarakat. Dari setiap periodeisasi pemimpin tentu banyak ragam gaya kepemimpinan, mulai prestasi sampai dengan hal kontroversi.

Lalu daripada itu, sebagai pemilik peran penting pada tanggal 16 November 2016, masyarakat harus siap untuk memperjuangkan masa depan Kota PematangSiantar untuk 5 sampai 100 Tahun ke depannya melalui hak suara yang akan ditentukan dibilik pencoblosan. Ada yang bilang suara rakyat adalah suara Tuhan, maka ketika terjadi penjualan hak suara, itu sama saja menjual suara Tuhan, dan pastinya siapkan diri untuk menderita, sebab hak suara anda telah dibeli oleh paslon ( Jika ada).

Belajar dari pengalaman terkait suskesi Pilkada teryata masih menyimpan kenangan bahwa Money Politik menjadi pilar terpenting bagi paslon dan pemilih. Sebab moment pesta demokrasi merupakan ajang untuk meraup untung oleh sejumlah oknum. Tanpa memikirkan dan peduli dengan efek samping dari perbuatan tersebut seperti apa nantinya kota Pluralisme ini ke depannya.

Lalu, menjelang hari pemilihan, masyarakat yang khususnya memiliki hak suara pada pilkada nanti harus memiliki sikap partisipatif dalam mensukseskan pilkada serta antisipatif dan apatis terhadap pasangan calon yang menggunakan money politik. Dan yang perlu dipahami adalah siapa sosok dan kepribadian pasangan calon dan bagaimana paslon tersebut menjaga kedekatannya dengan masyarakat, serta, Visi dan Misi apa yang sinkron dengan kebutuhan masyarakat PematangSiantar.

ditambah lagi menjadi refensi Pemilih, jika dikalkulasikan Gaji seorang Walikota PematangSiantar hanya Rp. 6,4 Juta/bulan ( berdasarkan APBD PematangSiantar T.A 2016). Terus, jika dibandingkan pengeluaran paslon saat berkampanye hingga Milyaran, bagaimana mau membangun kota ??????? apakah tidak memikirkan balik modal ???????.

Oleh karena itu, jika sistem demokrasi masih memakai cara lama dan kotor serta tidak bermartabat tentu saja hasilnya akan melahirkan jiwa pemimpin-pemimpin yang korup dan sebatas pemimpin rakyat dan bukan pemimpin yang diidamkan oleh warga PematangSiantar nanti yaitu Pemimpin yang merakyat, dan sekaligus hanya meninggalkan isapan jempol belaka kepada masyarakat.

“ korelasi yang logika,  Jangan biarkan kesalahan 1 detik dibilik pencoblosan menjadi kesalahan seumur hidup buat perubahan di Kota ini”.

Kita berharap Suksesi Pilkada Esok menjadi sejarah bahwa kota PematangSiantar adalah kota yang bermartabat, sehingga ada sosok pemimpin yang lahir dari hasil perolehan suara hanya karena kedekatannya dengan rakyat sampai dengan dipercayakan dan akhirnya dicalonkan sendiri oleh rakyat untuk kepentingan rakyat PematangSiantar.

Tangerang, 14 November 2016

Penulis : Saddan Sitorus S.H. ( aku mantan wartawan, dan sekarang aktif dan bertugas sebagai Sekretaris Fungsi aksi dan Pelayanan di Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia )

Baca Juga

Merdeka dari Belenggu Dosa, Merdeka dari Ketidakadilan

Paskah adalah hari terpenting yang seharusnya menjadi refleksi rohani bagi umat Kristiani yang ada di ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!