Siantar News / Headline / Buruh Suarakan Revolusi
Fawer Full Fander Sihite

Buruh Suarakan Revolusi

“Kapitalisme Monopoli Sedang Menuju Kehancurannya”

 Perjalanan bangsa Indonesia pada telah membuktikan bahwa Kaum buruh terlebih tahun mengorbanisir diri sekitar pada tahun 1905, setelah itu diikuti oleh kaum intelektual yang mana ditandai dengan hadirnya Budi Utomo pada tahun 1908, dan kemudian di ikuti oleh kaum dagang pada tahun 1911.

Ketika kita berbicara kaum Buruh maka kita tentunya tidak dapat melupakan sejarah besar yang terjadi pada “Revolusi Oktober 1917” dan peristiwa Revolusi memberikan energi postif bagi gerekan Buruh di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Di dalam sejarah panjang perjuangan Kaum Buruh di Republik Indonesia pada tahun Agustus 1920 Pemogokan buruh gula serta, Pemogokan buruh pegadaian bulan Januari 1922 dan Pemogokan buruh kereta-api bulan Mei 1923. Pemberontakan kaum tani tahun 1926-1927. Juga di Sumatera Timur pada permulaan September 1920 timbul pemogokan di kalangan kaum buruh kereta api DSM (Deli Spoor Maatschappij), yang juga menuntut kenaikan upah. Aksi mogok ini juga menjalar sampai kepada buruh BPM (Bataafse petroleum Maatschappij) di Pangkalan Brandan.

Dengan dipenuhinya tuntutan buruh, segera pemogokan berhenti. Keadaan upah kaum buruh dalam tahun krisis 1922 adalah sangat buruk. Ini menyebabkan timbulnya desakan yang sangat keras dari kaum buruh untuk mengadakan pemogokan. Dan pada tahun 1922 Tan Malaka di keluarkan dari pemerintahan Hindia Belanda yang berhubung dengan pemogokan Buruh Pengadaian.

Dalam buku Sanusi Pane, “Indonesia Sepanjang Masa”, antara lain diterangkan bahwa pada tahun 1923 ditaksir modal asing di Indonesia ada 2.650 juta florin (rupiah Belanda), laba yang diperoleh pada saat itu setiap tahunnya mengalir keluar negeri bukan untuk pertumbuhan Indonesia.

Dari keterangan Sanusi Pane di atas jelaslah, bahwa kaum kapitalis monopoli, yang menguasai seluruh hidupan ekonomi dan politik, berusaha untuk mendapat untung sebesar-besarnya dengan jalan memperbesar nilai ­lebih, yang tidak boleh tidak mesti diikuti oleh penghisapan yang lebih hebat dan oleh penurunan tingkat hidup dari kaum buruh. Keadaan ini yang memaksa Kaum Buruh untuk terus-menerus mengadakan perjuangan melawan serangan-serangan kapitalis monopoli terhadap tingkat hidupnya.

Lenin memang mengatakan, bahwa “kapitalisme monopoli sedang menuju kehancurannya”, tetapi ini tidak berarti bahwa ia akan hancur sekaligus seluruhnya. Kehancuran sekaligus adalah tidak mungkin, karena perkembangan daripada imperialisme sendiri adalah tidak sama. Dan ini pula-lah yang memungkinkan adanya sosialisme di satu negeri atau di beberapa negeri, walaupun di bagian-bagian lain dari dunia masih bercokol sistem kapitalisme.

Dengan melihat penyataan Lenin di atas saya menjadi terpikir apakah menyebabkan imperialis Amerika menjadi nekat untuk mendapatkan daerah pasar dan daerah bahan mentah yang sekarang sudah dikuasai oleh Rakyatnya sendiri atau dikuasai oleh negeri-negeri kapitalis yang lain dan apakah ini yang menyebabkan Amerika akan memelopori persiapan perang dunia ketiga, dikarenakan dengan menggunakan pendekatan Kapital sudah pasti akan semakin mengemukkan personal bukan membicarakan kesejahteraan komunal sehingga mereka sudah merasa terancam dan di ambang kehancuran.

Namun Indonesia yang kita lihat pada saat ini masih asing dengan ke-Kepitalisannya di bawah ketiak Amerika, dan mungkin ancaman-ancaman Amerika masih menina bobokkan para kaum Borjuis Indonesia.

Dengan melihat penjelasan diatas perjalanan sejarah panjang Kaum Buruh di Indonesia sudah saatnya “Kaum Buruh Menggalang Kekuatan” beranjak dari ketertindasan yang ada, menyatukan keresahan mulai dari system Autsorsing, PP 78 tentang upah rendah, Kriminalisasi Buruh, Jaminan Kesehatan & Keselamatan, dan banyak hal lainnya lagi yang menjadi skala perjuangan Buruh nantinya pada May Day 2017, namun yang menjadi pertanyaan apakah May Day 2017 hanya sebagai ajang turun ke jalan teriak-teriak dan melakukan seremonial lainnya, bukankah sudah begitu lama sebenarnya Kaum Buruh menginginkan Revolusi agar terjadinya sebuah perubahan pada tatanan perekonomian dan sosial Masyarakat.

Dengan memperhatikan kekuatan Kaum Buruh di Indonesia merupakan sebuah kekuatan yang sudah lama di “nina bobo” oleh kaum-kaum Borjuis, baik dari beberapa pimpinan-pimpinan organisasi Kaum Buruh yang masih bermental “Tempe” sehingga tidak berani “angkat tangan dan katakan kita harus melakukan Revolusi”.

Jika perjuangan May Day 2017 hanya sebatas menikmati hari libur karena hari buruh Internasional, hal itu tidak akan mengubah apa pun melainkan hanya menghasilkan sampah usai acara atau menghasilkan kelelahan tubuh, dan bahkan hanya menguntungkan para elit kapitalis yang senang dengan acara heuporia dari kegiatan May Day, sudah saatnya Kaum Buruh “Stop Kegiatan Seremonial” belaka karena itu hanya hanya menghabiskan waktu.

Kita menyakini Kaum Buruhlah yang harus menentukan nasip mereka, bukan Kaum-kaum Borjuis yang pasti akan bermuara pada pengalian jurang si Kaya dan Simiskin agar lebih dalam lagi. Saya tidak mengatakan Kaum Buruh untuk merebut kekuasan pemerintahan namun ada sebuah gerakan yang dibangun secara Nasional di Indonesia dan menghasilkan sesuatu yang bertujuan untuk kesejahteraan Buruh sehingga May Day tidak hanya berlalu begitu saja seperti merayakan hari-hari lainnya di Republik ini yang hanya seremonial juga.

Kita harus penuh kesadaran bahwa sudah sejak dulu dianalisa bahwa system Kapitalis hanya akan menyiksa rakyat miskin atau Kaum Buruh pada umumnya, namun untuk saat ini di tengah kepurukan para Kaum Kapitalis jangan lagi biarkan mereka mengalami berfotosintesis, kita harus lakukan perlawanan, tentu juga bukan perlawanan perang, melainkan perlawanan wacana dan pergerakan Nir Kekerasan sehingga wacana terwujudnya Indonesia yang kita cita-citakan seperti yang termuat di dalam Pancasiala yaitu “Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kesejahteraan dan Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat Indonesia” benar-benar di rasakan oleh seluruh warga Negara Indonesia, bukan hanya di rasakan oleh Kaum-kaum elit saja seperti yang saat ini masih terjadi di Indonesia, dengan demikian besar harapan kepada Kaum Buruh untuk melakukan Revolusi.

Saat ini saya melihat bahwa ada drama baru yang sedang direncanakan, dimana para pegiat sosial saat ini sedang diawasi oleh kaum Burjuis sehingga ketika kelompok-kelompok itu melakukan sebuah gerakan akan terlihat bahwa mereka diawasi kaum Burjuis. Sehingga akan menghasilkan stikma yang buruk atau tidak percaya kepada “kaum pegiat sosial yang pada umumnya kalangan Mahasiswa”, dan akan menimbulkan konflik horizontal yang berkelanjutan di internal organisasi mahasiswa, dan berdirilah seorang pahlawan yang akan mengatakan “organisasi mahasiswa tidak dapat dipercayai lagi” sehingga kaum Borjuis akan lebih tenang lagi duduk di kursinya masing-masing, dengan demikian saya menilai saat ini gerakan Revolusi harus dimulai dari Kaum Buruh di karenakan persoalan yang dihadapi Kaum Buruh akan lebih mudah memupuk persatuan Buruh untuk saling berjuang.

Mohon maaf jika ada penulisan kata-kata, dan mohon maaf jika ada pernyataan yang tidak sesuai dengan cara berpikir saudara.

Salam Revolusi, May Day 2017

Fawer Full Fander Sihite

(Mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana)

 

 

 

 

 

Baca Juga

Amin Rais Sebut Penyebar Pencalonan Anaknya Calon Wagubsu Sebagai Cebong-Cebong

SiantarNews|Jakarta,- Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional, Amien Rais, mengatakan pelaku penyebar berita bohong tentang pencalonan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!