News Update
Siantar News / Headline / AIR MATA MERAH PUTIH
Fawer Full Fander Sihite

AIR MATA MERAH PUTIH

Oleh : Fawer Full Fander Sihite

Awal perjuangan semangat pembentukan Negara Indonesia bukan hanya sekedar euforia belaka, melainkan memiliki cita-cita untuk tatanan masyarakat yang lebih baik lagi.

Seiring dengan berjalannya waktu kepemimpinan sejak Indonesia memiliki Presiden selaku kepala Negara, tidak dapat dipungkiri semakin hari Negara ini semakin menuju ke jurang kehancuran. Dalam hal ini bukan berbicara persoalan “apatis” atau “optimis” namun kita mau bicara keadaan bangsa ini sekarang.

Jika kita merujuk kepada seruan sang Proklamator Negara ini Ir. Sukarno ia meyuarakan, berdikari secara ekonomi, berdaulat secara politik, dan berkepribadian secara budaya. Dengan demikian mari kita melihat dan menganalisa sudah sejauh mana Negara ini menghidupi nilai-nilai Trisakti Ir. Sukarno yang kerap di sapa Bung Karno itu.

Saat ini ketika kita bicara tentang “berdikari secara ekonomi” , yang ada saat ini adalah “asingkan seluruh asset-asset nasional” bukan lagi nasionalisasikan asset-asset asing, sehingga cita-cita “berdikari secara ekonomi” akan terus hanya sebagai mimpi di siang bolong yang seakan harapan semu. Yang di desa didorong untuk ke kota, yang bertani digusur untuk demi alasan pembangunan, yang di kali kehilangan tempat, dan semua seakan dapat di selesaikan hanya dengan kata-kata penghiburan dan pengalihan issu.

Sistem perekonomian sosialis yang dianggap sebagai turunan pemikiran Karl Marx sehingga Negara ini seakan anti dan engan untuk menghidupinya. Merelakan Negara ini hidup dengan sistem perekonomian Kapitalis tentu hanya akan menguntungkan segelintir orang atau keluarga saja. Kita tidak katakan Indonesia harus menghidupi pemikiran Karl Marx, namun Bung Karno sudah mempatrikan sebuah Ideologi Marhaenis yang dapat mewujudkan “berdikari secara ekonomi”.

Marhaen adalah seorang petani yang memiliki cangkul dan tanah pertanian sendiri, namun kehidupannya juga masih tetap serba kekurangan, inilah awal pemikiran Marhaenis oleh Bung Karno. Kekuasan para tengkulak semakin membuat para petani khususnya, jungkir balik karena harga jual semakin rendah dan biaya hidup semakin tinggi, dengan model perekonomian yang kapitalis sekarang sudah tidak lagi mampu mewujudkan “perekonomian Indonesia secara berdikari”, jurang si kaya dan si miskin pun semakin jauh, karena kesejahteraan hanya dinikmati segelintir golongan saja.

Seruan yang kedua di sampikan bung Karno “berdaulat secara politik”, namun Negara saat ini sedang mempertontonkan politik busuk, jual beli suara, bagi-bagi kursi jabatan, politik identitas, politik rasis, politik radikal dan mahar politik. Hal ini akan membawa kita semakin jauh dari substansi “Berdaulat secara politik”.

Pendidikan politik tidak lagi sampai kepada masyarakat golongan kecil, melainkan hanya dikomsumsi oleh para golongan penguasa dan semua dikondisikan agar masyarakat tetap bodoh dan hanya sebagai Korban buih politik para kaum elit. Mulai dari tatanan pusat hingga ke daerah situasi politik di Indonesia tidak berorientasi kepada kemakmuran rakyat hal ini dibuktikan dengan sejuta janji politik yang tidak direalisasikan oleh para politikus.

Dengan memperhatikan persoalan politik di atas, para politikus bahkan lembaganya pun sudah kehilangan kepercayaan dari masyarakat pada umumnya, partisipasi pemilih hanya dikarenakan alasan moral, bukan dikarenakan adanya calon yang diperlayakkan untuk dipilih.

Bangsa yang “berdaulat secara politik” semakin dipertanyakan saat ini? “Bangsa yang ahli menerapkan politik busuk” bisa jadi, karena kita tidak melihat lagi adanya penerapan “berdaulat secara politik”, kekuasan partai semakin menggerilya, partai yang dibangun secara pribadi meningkat jumlahnya, partai yang memperjuangkan kaum marginal, kaum miskin kota, para petani, para nelayan, semakin sirna.

Politik yang pada dasarnya memiliki naruli yang baik dari etimologi katanya, kurang lebih diartikan sebagai “mengelola kota” yang saat ini diimplementasikan oleh para politikus yaitu “merusak kota” atau “mengeksploitasi kota”.

Pada butirnya yang ketiga bung Karno mengatakan “Berkeperibadian secara budaya”, kalimat yang ketiga ini memuat ke-Indonesiaan kita yang berhubungan dengan budaya, secara gamblang sebenarnya kita sudah dapat mengatakan apa pun yang berkaitan dengan “pembangunan” atau “peningkatan perekonominan” harus tetap memperhatikan nilai-nilai budaya, namun lagi-lagi kita melihat yang terjadi saat ini budaya ke-Indonesiaan itu sudah “ditelan” oleh barat, melalui jalur pariwisata, perekonomian, pembangunan dan sebagainya, kebudayaan yang dimiliki Indonesia semakin hari akan semakin memudar.

Bung Karno sangat meyakini bahwa di dalam budaya terdapat “kepribadian” yaitu kepribadian Indonesia, rasa kepemilikan terhadap bangsa ini seakan sudah mulai di pertanyakan, hal itu di tandai dengan, kurangnya peranan melestarikan budaya, budaya yang di anggap tidak laku di pasar kapitalis, budaya yang tidak ber-Tuhan, budaya yang sesat dan banyak hal lainnya yang sering muncul kepermukaan untuk “menanamkan nilai-nilai kapitalis dan menguntungkan segelintik orang saja”.

Ketika Negara ini tanpa Budaya maka tidak dapat di sebut lagi sebagai Negara Indonesia, keperibadian Indonesia itu tidak akan dapat dari Budaya orang lain, “sehingga dengan melestarikan budaya maka sesungguhnya anda sedang melakukan pelestarian keperibadian generasi bangsa”.

Dengan mengulas kembali Tri Sakti Bung Karno dan melihat realisasinya pada saat ini, sudah saatnya kita mengatakan “Air Mata Merah Putih”, Merah Putih saat ini sedang mengeluarkan Air Mata, sehingga dengan ucapan yang sudah tidak asing lagi bagi kita “bangsa ini sudah mampu membuat Pembangkit Listrik Tenaga Air Mata (PLTAM), karena sudah begitu lama rakyatnya menderita dan menghasilkan air mata”.

Slogan kritikan ini seakan hanya sebagai tertawaan bagi para penguasa saat ini, mereka masih asik dengan tipu-tipu politiknya, pengurasan perekonomian, bangga dengan jalan Tol yang bukan milik bangsanya sendiri. “Air Mata” tidak akan berganti dengan “Senyuman” jika saudara yang memiliki mulut kebenaran tidak bersuara, anda yang punya massa perjuangan tidak bergerak, anda yang punya kesadaran sosial hanya diam, anda yang mengaku aktivis hanya ngoceh di warung-warung kopi, anda yang idealis hanya meratapi kehancuran bangsa ini.

Sudah saatnya anda-anda bersuara melalui tulisan, pergerakan, dan propaganda lainnya, karena jika tidak sama saja anda membiarkan bangsa ini dirusaki oleh para keparat-keparat busuk itu semua

Baca Juga

Siap-Siap, Seleksi CPNS 2018 Dibuka Besar-besaran di Daerah

SiantarNews|Jakarta,-Kabar baik bagi peserta yang tak lolos seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2017, ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!