Siantar News / News Sumut / Sebagai Penyambung Lidah Tuhan  
Pdt Sunggul Pasaribu, STh, MPAK

Sebagai Penyambung Lidah Tuhan  

 

Oleh  :  Pdt. Sunggul Pasaribu,MPAK

Bacaan : Jesaya 50:4, “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.”

Lidah memang tidak bertulang, namun ucapan yang keras tidak dapat dipatahkan oleh kekuatan tenaga. Perkataan yang lembut, damai, dan menyejukkan justru dapat menciptakan sukacita dan damai sejahtera. Demikianlah fungsi lidah untuk berkata-kata.

Nabi Yesaya menggambarkan fungsi organ tubuh terhadap peran seorang Hamba untuk memberitakan suara Tuhan, dan fungsi telinga untuk mendengar pesan. Sebelum masuk ke dalam inti pembahasan, alangkah baiknya kita memahami dahulu penjelasan singkat dari kitab Yesaya khususnya pasal yang ke-50 ini. Siapa yang dimaksud dengan sebutan hamba Tuhan (murid)? Yesaya memang tidak menuliskan secara jelas siapa yang dimaksud dengan murid atau hamba dalam bagian ini.

Tetapi pada kenyataannya kata “hamba”  banyak ditemukan dalam kitab Yesaya. Hamba Tuhan digambarkan dalam tiga hal (sebutan yang berbeda): Pertama, Semua keturunan Abraham. Kedua, hanya keturunan Abraham yang setia. Ketiga, seseorang yang tak bernama yang dalam Perjanjian Baru menunjuk kepada Yesus (Mesias).

Kitab Yesaya berisi nubuatan tentang kedatangan Mesias, juga tentang penderitaan dan kesengsaraan Yesus. Oleh sebab itu, walaupun Yesaya tidak menyebutkan secara jelas siapakah hamba yang dimaksud tetapi yang terpenting adalah bahwa hamba ini adalah seorang murid yang memiliki telinga yang baik dan luar biasa.

Bisa juga Yesaya berbicara tentang dirinya sebagai nabi, sebagai hamba atau sebagai murid. Karena dalam pasal ini ada sebutan: “Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” (Yes. 50:4)

Telinga seorang murid inilah yang akan kita teladani dalam hidup kita. Mengapa telinga seorang murid harus mendengar dengan baik-baik? Mengapa Tuhan Allah setiap pagi mempertajam telinga sang murid untuk mendengar?

Allah menegur Israel yang mengeluh dan mempersalahkan Allah ketika mereka menderita di pembuangan. Hukuman Allah atas mereka terjadi karena mereka tidak mau taat kepada-Nya. Sebagai hamba Allah yang diutus untuk melaksanakan kehendak-Nya, nmaun mereka gagal menjadi umatNya.

Kontras sekali dengan hamba yang dinyanyikan dalam nas ini. Di sini, hamba Allah rela menjadi murid yang taat kepada Allah. Setiap hari ia duduk di bangku sekolah milik Allah untuk berguru pada-Nya. Telinganya disendengkan untuk mendengar segala pengajaran-Nya.

Allah mengaruniakan kita untuk berkata-kata kebenaran, bersaksi tentang kebaikan Tuhan, menyuarakan suara kenabian, serta diberinya telinga untuk mendengar pengajaran dan perintahNya. Sebagai hamba, kita harus taat dan setia terhadap panggilan Kristus. Kapan dan di mana pun kita harus selalau siap sedia. Amin.!

Penulis : Dosen Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar.

Baca Juga

Diduga Dibunuh, Warga Kelurahan Kota Siantar Heboh Penemuan Mayat Penuh Darah

SiantarNews|Peristiwa,- Warga Kelurahan Kota Siantar, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatra Utara digegerkan dengan penemuan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!