News Update
Siantar News / News Sumut / Membenci Kejahatannya, Bukan Orangnya

Membenci Kejahatannya, Bukan Orangnya

 

Oleh, Pdt Sunggul Pasaribu,M.PAK.

Olive Moore, penulis Inggris abad ke-19, menulis kata-kata ini: “Hati-hatilah menggunakan kebencian – Kebencian adalah hasrat yang membutuhkan seratus kali energi cinta. Pakailah hanya untuk membenci masalah, bukan orang. Pakailah hanya untuk membenci sikap tidak toleran, ketidakadilan, kebodohan. Kebencian akan menjadi kekuatan manakala kita menggunakannya untuk membenci hal-hal di atas. Kekuatan dan kedahsyatannya tergantung pada banyaknya kita memakai kebencian itu.”

Kita cenderung menghambur-hamburkan sikap benci untuk kesalahan dan perbedaan yang remeh. Komentar lawan politik dapat memancing rasa sengit kita. Surat bernada marah untuk editor sering membesar-besarkan hal-hal remeh karena penyakit kebencian kita salah sasaran. Gereja menjadi retak dan pecah ketika kebencian diarahkan kepada orang-orang, bukan pada kekuatan di sekitar kita yang menghancurkan kehidupan dan harapan.

Orang Methodist kuno yang melakukan perjalanan keliling digambarkan sebagai orang-orang yang tidak membenci apa pun selain dosa. Mereka adalah orang yang secara serius melakukan seruan pemazmur, “Hai orang-orang yang mengasihi Tuhan, bencilah kejahatan!” (Mazmur 97:10), dan Nabi Amos yang mendesak pembacanya untuk “membenci yang jahat dan mencintai yang baik” (Amos 5:15).

Biasanya, pada saat kebencian masih terus menguasai jiwa dan pikiran kita yang ditujukan kepada seseorang – Tidak heran kita akan menjadi orang seperti yang dihinggapi oleh penyakit insomania, suka melamun, terbayang-bayang dendam, susah memejamkan mata. Akhirnya, kebencian itu telah mengganggu kejiwaan kita. Malah, semakin lama kebencian menyelimuti kepribadian kita sepanjang itu pula kejiwaan kita digerogoti dendam, dan amarah yang tak kunjung berwujud. Kita rugi dan menjadi orang yang malang.

Secara konteks, Nabi Amos dan Pemazmur menyuarakan kebaikan, kebajikan, ditengah-tengah keprihatinan hidup umat Tuhan yang sedang dilanda perlakuan diskriminasi. Nabi Amos, dikenal sebagai Nabi Sosialis, dan Pemazmur dikategorikan sebagai Mazmur Kebajikan. Maka jika dihubungkan kedua teks ini dapat dikatakan hidup ini barulah dapat disebut sejahtera jika kebajikan sejalan dengan peribadatan.

Dengan perkataan lain, kita harus membenci setiap kejahatan – namun pelaku kejahatan haruslah kita kasihi supaya bertobat, jangan mengulangi berbuat yang jahat. Tuhan kita tidak menginginkan orang jahat mati dalam kejahatannya – namun hendaklah orang itu secepatnya sadar dan bertobat.

Di hadapan Tuhan, kejahatan dan orang jahat harus dapat dibedakan. Tugas gereja dan orang Kristen yang sangat mulia adalah membuat orang jahat bertobat.. Amin.!

Penulis: Dosen Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar

 

Baca Juga

Survei TII: Medan Kota Terkorup 2017

SiantarNewslJakarta,-Hasil survei terbaru dari Transparency International Indonesia (TII) menyimpulkan kota Medan, Sumatera Utara, sebagai kota ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!