News Update
Siantar News / Headline / Duh, Sejumlah Guru PNS Sibolga Minta Cerai, Ini Alasannya
Walikota Syarfi Hutauruk saat memberikan arahan dan bimbingan pada kegiatan penyuluhan KB dan KDRT. (Foto ist)

Duh, Sejumlah Guru PNS Sibolga Minta Cerai, Ini Alasannya

SiantarNews|Sibolga-Permintaan cerai di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kota Sibolga, kian meningkat. Ragam alasan mereka utarakan untuk meminta izin. Uniknya, permintaan cerai itu didominasi para guru.

Walikota Sibolga Syarfi Hutauruk menyebutkan hampir setiap pekan ada pegawainya yang mengajukan izin perceraian. Mayoritas pengajunya kaum istri.

“Saya bingung, hampir setiap minggu di atas meja tetap ada surat yang minta izin pengajuan cerai, kebanyakan istrinya yang minta cerai, hampir 80 persen,” sebut Syarfi dihadapan para kader KB, pimpinan SKPD dan Forkopimda saat membuka Penyuluhan KB dan KDRT di Gedung Yenny Sopoholong, Rabu (9/11/2016).

Ditambahkannya, dari 80 persen itu paling banyak dari profesi pendidik. Syarfi menyatakan itu kemungkinan lantaran dia sudah mempunyai penghasilan besar dari bertambahnya uang sertifikasi. Dibandingkan penghasilan suaminya, dia merasa sepele lalu meminta cerai. Tak pelak, situasi seperti itu rawan terjadi tindak kekerasan terhadap istri oleh suami.

“Dari surat tersebut, saya perintahkan sekda melalui inspektorat untuk mendamaikan kedua belah pihak. Tetapi berdasarkan laporan, kebanyakan mereka bersikeras untuk berpisah. Padahal suami mau damai, istrinya yang bersikeras minta pisah, karena alasannya sedikit-sedikit dia dipukul dan dihajar oleh suami, makanya bersikeras minta pisah,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Inspektorat Pemko Sibolga Sofyan Nasution saat dikonfirmasi membenarkan bahwa hampir 80 persen dari guru yang meminta berpisah dengan pasangannya.

“Kemungkinan karena meningkat perekonomiannya karena sertifikasi bisa menjadi dasar permintaan cerai,” kata Sofyan.

Pihaknya sendiri, sambung Sofyan, telah melakukan berbagai upaya untuk menyatukan pasangan yang bertikai untuk rujuk kembali. Tetapi tidak semua berjalan mulus, selalu ada yang bersikeras untuk bercerai. Yang tidak mau bersatu itu, lanjut Sofyan, karena cenderung sudah sempat terjadi kekerasan kepada si istri.

“Kami bina terlebih dahulu, kami jelaskan tentang perundang-undangan perceraian dan perkawinan pegawai agar mereka batal bercerai.  Kami memanggil berbagai pihak terkait untuk mendamaikan. Ada juga yang bersatu kembali,” bebernya. (snt-snw)

Baca Juga

Survei TII: Medan Kota Terkorup 2017

SiantarNewslJakarta,-Hasil survei terbaru dari Transparency International Indonesia (TII) menyimpulkan kota Medan, Sumatera Utara, sebagai kota ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!