News Update
Siantar News / Headline / Ditelantarkan, Penderita Kanker Mulut Ini Nekat Pulang Kampung
Pasien, Orudugo (Foto ist)

Ditelantarkan, Penderita Kanker Mulut Ini Nekat Pulang Kampung

SiantarNews|Medan-Upaya Oruduho Zebua (52), warga Nias Selatan berangkat ke Kota Medan untuk menjalani perawatan atas penyakit yang dideritanya, berakhir dengan kekecewaan yang mendalam. Padahal, ia sudah membawa surat rujukan dari Rumah Sakit Gunungsitoli untuk berobat di RS Adam Malik.

Seminggu di rumah sakit milik pemerintah ini, ia mengaku tak kunjung ditangani. Kesal atas pelayanan tenaga medis di RSUP Adam Malik, pasien asal desa Amuri, Kecamatan Lolowau, Nias Selatan ini, nekat pulang kampung, Kamis (3/11/2016).

“Sakit. Aku sudah nggak tahan. Daripada mati di sini, enggak ada yang merawat, lebih baik aku pulang (kampung),” ujar Orudugo dalam bahasa dan logat Nias.

Suaranya pecah karena pipinya bolong besar. Kata-katanya itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Arododo Halawa (24), keponakannya yang ikut mendampinginya dari Nias.

Orudugo berjalan keluar rumah kontrakan saudara semarganya, Rosmawati Zebua (32), warga Jalan Sei Bilah No.63 Medan.

Sembari menentang satu koper berisi pakaiannya, ia berjalan tertatih. Sebuah kantong kresek membekap mulutnya untuk menampung air liurnya yang terus meleleh. Rosmawati berusaha menahan Orudugo, agar mengurungkan niatnya untuk pulang kampung. “Jangan pulang, Abang,” katanya dalam nada dan logat Nias pula.

Sudah seminggu ia menumpang di rumah Rosmawaty, saudara semarganya itu. Ia sendiri di dalam kamar, hanya bisa mengerang dan mengeluh kesakitan. Di bawah ranjangnya ditaruh sebuah baskom besar untuk menampung air liurnya yang terus meleleh. Aroma busuk nan menyengat menguar.

Orudugo sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Sitoli oleh dokter Yamoguna Zega, S.pB. Oleh dokter ini ia didiagnosis menderita Tumor maxila (D) Suspect Malignan. Kemudian pasien ini dirujuk ke RSUP Adam Malik, Jalan Bunga Lau No.17 Medan pada Rabu 26 Oktober 2016.  Hari itu juga pasien bertolak dari Nias. Esoknya pasien tiba di Medan.

Sebelumnya, Orudugo pernah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Bethesda Gunung Sitoli. Kala itu, keluhannnya hanya bengkak di mulut dan gusi di bagian pipi kiri, sebulan lalu. Dokter yang menangani namanya, dr Hayati Sitompul.

Dengan selembar surat rujukan itulah Orudugo berangkat ke Medan. Setiap hari ia ditemani sepupunya membawa korban ke Adam Malik. Setiap kali datang, pihak rumah sakit menyuruhnya mendaftar. “Setelah mendaftar, kami disuruh pulang. Hari itu tidak diperiksa sama sekali. Padahal dokter di Gunung Sitoli bilang abang kami ini pasti segera ditangani. Nyatanya tidak,” ujar Rosmawati Zebua.

Pada Minggu (28/10/2016), pasien ini mendatangi kembali Rumah Sakit Adam Malik. Mereka disuruh mendaftar lagi. Lalu perawat membawanya ke bagian Onkologi. Oleh dokter bagian Onkologi, pasien hanya dibersihkan bagian lukanya lalu diperban. “Kami dibilang rawat jalan saja. ‘Baru pertama kali kalian di sini berobat kan. Pulanglah. Besok datang lagi. Di sini belum bisa rawat inap. Tak ada lagi kamar. Bukan kalian saja yang kami tangani. Banyak pasien yang sudah lebih dulu datang.’ Saya sangat kecewa,” kata Rosmawati menirukan ucapan sang dokter.

Masih menurut keterangan Rosmawati, Senin (30/10) Urodugo datang lagi ke RSUP Adam Malik. Namun lagi-lagi ia diminta hanya mendaftar. Baru difoto di bagian Onkologi. “Setelah difoto kami disuruh menunggu ke bagian tindakan. Kami menunggu sampai malam. Selalu kami diminta bersabar. Terus bersabar. Tapi tak ada yang datang. Sementara abang kami ini terus kesakitan,” tangis Rosmawati.

Esoknya, Urodugo datang lagi. Kali ini secuil daging dari mulutnya diambil untuk diperiksa. “Kata dokternya, hasilnya baru keluar seminggu lagi. Kami disuruh pulang lagi. Tapi kami tidak pulang. Kami bawa abang kami ke IGD. Lalu dibersihkan mulut abang kami, terus dibungkus. Kata pihak rumah sakit, kurang ranjang. Jadi kami diminta pulang. Padahal kami sudah bolak-balik menjelaskan rumah kami jauh. Dan kalau sewa rumah di dekat Adam malik itu, kami gak mampu,” sambung Rosmawati.

Selanjutnya, korban mengalami pendarahan pada Selasa (31/10). Lalu Uba Pasaribu, pemerhati pemulung mendengar kabar itu. Uba pun langsung bergerak ke RSUP Adam Malik. Ia menemui dokternya. Oleh dokter itu, akhirnya Urodugo diinfus dan dibawa ke ruangan pasien. Namun malamnya sekitar pukul 22.00 WIB, setelah Uba Pasaribu pulang, pasien disuruh pulang. “Terpaksa saya dan abang saya tidur di kaki lima rumah sakit,” terang Rosmawati.

Malam itu, Istri si pasien bernama Sutima Laia (35) tak mengerti mengapa suaminya disuruh pulang. Pasalnya ia tak tahu berbahasa Indonesia. Ia hanya mampu berbahasa Nias. “Kami hanya meminta agar abang kami diobati. Bukan hanya sekadar diminta bersabar. Kami orang susah. Tolonglah dokter-dokter itu mengerti,” sambung Rosmawari.

Penyakit ini muncul secara tiba-tiba . Awalnya cuma gatal biasa di gigi. Terus berobat di klinik. Tiga bulan kemudian bengkaknya luar biasa. Lalu pecah tiba-tiba. Sejak mengidap penyakit itu, Orudugo kewalahan makan dan minum. Selera makannya merosot. Bahkan berat badan Orudugo anjlok delapan kilo dari semula 60 kg.

Mendapat pengalaman buruknya pelayanan medis, di RSUP Adam Malik, Orudugo seperti kehilangan semangat hidup. Sekarang ini ia hanya mengharapkan respon dari Presiden Jokowi. “Pak Jokowi, Presiden kami, tolong perhatikan kami orang-orang miskin ini. Saya hanya ingin berobat,” harapnya.    (SD-SNW, REM)

Baca Juga

Ada Prosesi Potong Kerbau di Nikahan Kahiyang di Medan, Ini Maknanya

SiantarNewslMedan,-Rangkaian acara adat Mandailing di pernikahan Kahiyang Ayu-Bobby Nasution di Medan akan dilanjutkan pada Jumat ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!